Di sore itu, saat aku masih kecil dulu, aku dan teman teman ku memutuskan untuk bermain sepak bola di lahan kosong yang terletak tidak jauh dari rumah kami. Seperti biasa, hanya 2 pasang sendal jepit yang kami jadikan gawang, juga bola plastik. Setelah tim dibagi 5 lawan 5, saatnya pembagian tugas. Kebanyakan dari kami pasti memilih untuk menjadi penyerang, atau pemain tengah. Jarang yang mengajukan diri untuk menjadi bek, apalagi kiper. Hanya 1 orang lah yang (dengan terpaksa) bersedia menjadi penjaga gawang. Setelah bermain, kami pulang dengan keringat banyak, siap untuk nanti dimandikan ibu kami masing masing.
Beberapa minggu yang lalu, aku diajak oleh teman temanku untuk bermain futsal di suatu daerah. Aku menyanggupi, memang saat itu kegiatanku tidak terlalu banyak. Kami memutuskan untuk main di sore hari, sama seperti aku kecil dulu, bedanya, sekarang aku main di lapangan futsal yang memakainya saja harus bayar, tidak di lapangan kosong seperti dulu. Hal yang sama terjadi saat pembagian posisi, kebanyakan dari kami enggan untuk menjadi penjaga gawang. Dengan terpaksa, seseorang bersedia menjadi kiper.
"Lalu, kenapa banyak orang enggan menjadi kiper?"
Dari wawancaraku bersama teman teman ku, banyak yang bilang kalau alasannya adalah seperti ini:
1. Kiper jarang cetak gol, nanti dibilang gak jago
2. Bosen jadi kiper, kalo gak diserang nganggur doang di belakang
3. Halah, nanti kalo kebobolan, pasti yang disalahin kiper duluan
Daaaan masih banyak alasan lain lagi.........
Menurutku, memang menjadi kiper bukanlah hal yang mudah, tapi bukannya bermain di posisi manapun tidak ada yg sangat mudah? Menjadi seorang kiper juga dituntut memiliki tanggung jawab besar, karena kitalah yang mengatur bagaimana posisi pemain bertahan didepan kita, dan jika salah, kebobolan, kiper harus berani bertanggung jawab.
Menjadi kiper, sebenarnya tidak melulu soal jatuh bangun menjaga gawang. Seperti yang disebut di atas, kita mengatur posisi pemain di depan kita untuk bertahan. Kiper modern pun juga berperan dalam membangun penyerangan tim. Ingat Peter Schmeichel yang disebut Playmaker Goalkeeper? Atau beberapa kali kita lihat Manuel Neuer naik ke setengah lapangan untuk membantu rekan setimnya di Bayern menjalankan tiki takanya Guardiola. Kiper juga biasanya adalah orang yang akan ditunjuk pelatih untuk menjadi kapten timnya. Dan ingat lagi satu hal, kiper akan jadi pahlawan timnya saat berhasil menggagalkan peluang emas tim lawan untuk mencetak gol ke gawang kita. Kita pasti masih ingat penyelamatan penalti Dudek saat adu penalti Liverpool vs AC Milan, yang akhirnya memberi gelar juara Champions League ke Liverpool secara dramatis. Atau jika mungkin Ravi Murdianto tidak menyelamatkan penalti lawan saat adu penalti Final AFF U-19, mungkin kita tidak akan melihat Ilham Udin berselebrasi sebegitu gembiranya saat penaltinya memastikan gelar juara AFF U-19 kepada Timnas Indonesia U-19. Menyenangkan bukan menjadi pahlawan tim di saat seperti itu?
Jadi, masih mau meremehkan posisi penjaga gawang?
Full Time FMer, Part Time Student
Rafiandra Putra Andika