Senin, 09 Februari 2015

Bunga Bunga Manchester

6 Februari 1958, Munich-Riem Airport, Munich, Jerman. Pesawat British European Airways nomor 609 dengan pilot Cap. James Thain dan kopilot Kenneth Rayment mencoba untuk take-off ketiga kalinya, setelah 2 kali gagal di percobaan sebelumnya. Kondisi landasan saat itu bersalju, putih. Di dalamnya, para pemain Manchester United, staff dan pelatih, serta beberapa jurnalis, hendak kembali ke Manchester setelah memenangkan pertandingan melawan Red Star Belgrade di Belgrade, Yugoslavia. Pesawat itu transit di Munich-Riem Airport untuk mengisi bahan bakar. 2 percobaan take off gagal. Jam menunjukkan pukul 15.04 waktu setempat. Pesawat gagal take off. Kecelakaan terjadi.

Api diatas salju. Pesawat yang terbelah badannya. Wajah yang berdarah. Nyawa yang melayang. Tidak ada yang tahu kecelakaan itu akan terjadi. "Busby Babes", begitu julukan mereka. Pasukan muda Manchester United dibawah asuhan Sir Matt Busby, yang siap menaklukan Eropa. Jauh sebelum impian itu terjadi, ada batu kerikil kecil yang menyandung mereka.  Geoff Bent, Roger Byrne, Eddie Colman, Duncan Edwards, Mark Jones, David Pegg, Tommy Taylor, Liam Whelan. 8 petarung yang gugur dalam usahanya memperjuangkan impian. Termasuk juga 3 staff United, 8 jurnalis, 2 penumpang lain juga tewas dalam kecelakaan itu. 

Toh, tidak hanya yang gugur yang diingat di hari itu, satu pahlawan bernama Harry Gregg, kiper United, menyadari di percobaan take off ketiga bahwa kecelakaan mungkin akan terjadi. Dia bertindak cepat untuk menyelamatkan yang lain, walau tidak semua berhasil dia selamatkan. Dalam setiap kecelakaan, ada satu bunga yang hidup dan mekar, tapi, bunga bunga lain yang gugur juga layak untuk dikenang.

United berhasil bangkit. Membangun kembali puing puing yang telah runtuh. Impian 8 pemain itu, dibiarkan mengalir dan hidup dalam darah teman teman dan para penerusnya di Old Trafford. 10 tahun kemudian, impian mereka tercapai. Memenangkan Liga Champions 1968 dengan mengalahkan Benfica di final. Bobby Charlton yang menjadi kapten, membawa harapan teman temannya di masa lalu, untuk berjaya di masa depan.

Bunga bunga itu kuncup, bukan untuk hal yg sia sia. Mereka sedang mempersiapkan generasi bunga baru yang lebih cantik. Kemudian, mereka akan melihat dan memperhatikan bunga-bunga baru tersebut, dari tempat yg lebih tinggi dan damai. Tak ada yang abadi, tapi pasti ada warisan untuk dikenang oleh generasi hari esok.

Rest In Peace, Flowers of Manchester. Forever RemembeRED.

Selasa, 22 Juli 2014

LeBron James is a Cum Laude!

Pemuda itu bernama LeBron James. Baru saja lulus dari pendidikan SMAnya di Akron, Ohio. Dia membuat keputusan terpenting dalam hidupnya, melanjutkan kuliahnya di salah satu kampus terbesar di US, bernama NBA. Mulai masuk di tahun 2003, James memulai pendidikannya di fakultas Cleveland Cavaliers. James masuk ke NBA di salah satu angkatan terbaik bersama Dwyane Wade di fak. Miami Heat, Carmelo Anthony, Chris Bosh, dll. Semua tak berjalan mudah buat James, tapi berkat bakat dan kerja kerasnya, di tahun pertamanya dia menjadi mahasiswa baru terbaik di kampus. What a great honor! Di tahun pertamanya juga dia terpilih menjadi salah satu dari beberapa mahasiswa terbaik yg dikumpulkan berdasarkan gedung kampus, sayap timur (East) dan sayap barat (West) gedung, untuk beradu pintar di kompetisi tertulis yg dinamakan All Stars. Dan di tahun tahun selanjutnya, dia rutin terpilih jadi anggota East All Star. Bersama fak. Cleveland Cavaliers, di tahun 2007, mereka berhasil masuk ke kompetisi cerdas cermat antara fakultas terbaik di gedung timur melawan fakultas terbaik di gedung barat, dan lawannya kali ini San Antonio Spurs, memperebutkan tahta fakultas terbaik di kampus itu. Sayang, mereka kalah telak. Tahun 2009 dan 2010, LeBron James terpilih sebagai mahasiswa dengan nilai tertinggi di kampus, berkat pembelajarannya bersama Cavaliers. Tapi, di tahun 2010 pula, dia membuat keputusan penting lagi. Dia memutuskan untuk pindah fakultas, ke Miami Heat, fakultas terbaik di tahun 2006, bergabung dengan mahasiswa terbaik di fakultasnya, Dwyane Wade, dan mahasiswa yg baru juga pindah, Chris Bosh. Di Miami Heat, ia mencapai kompetisi akhir 4 tahun berturut turut. Penantian James berakhir di tahun 2012 dan 2013. Tahun 2012, melawan fakultas dengan mahasiswa mahasiswa baru dan muda bernama Oklahoma City Thunder dengan mahasiswa terbaiknya, Kevin Durant. Tahun 2013, melawan fakultas yang sudah menjadi unggulan bertahun tahun berkat performa 3 mahasiswanya, Tim Duncan, Manu Ginobili, dan Tony Parker, San Antonio Spurs. Dua tahun berturut turut James mengalahkan Durant dan Duncan, dua kali James menjadi peserta terbaik di kompetisi akhir, dua kali fakultas Miami Heat menjadi fakultas terbaik di kampus. Penantian panjang berakhir manis. Tahun 2014 dia kembali ke kompetisi akhir, kembali melawan Spurs, tapi Heat gagal, mahasiswa muda yang baru masuk, Kawhi Leonard berhasil jadi peserta terbaik kompetisi. Sekarang, LeBron James sudah lulus dari NBA, dengan predikat Cum Laude. Tapi dia merasa masih punya hutang kepada fakultas pertamanya. Dia melanjutkan studi S2 nya di kampus NBA, bersama fakultas Cleveland Cavaliers, bergabung dengan mahasiswa mahasiswa muda berbakat seperti Kyrie Irving, Wiggins, dan Bennet. James kembali dengan kedewasaannya. Dia kembali untuk menuntaskan hutangnya. Dia kembali pulang....

Senin, 14 Juli 2014

Hormat atau Takut?

Minggu ini, topi karton, nametag bentuk aneh, barisan rapi, beberapa orang mengaku sebagai "kakak kelas" membimbing mereka, anak anak baru keliling sekolah. Ya, masa orientasi siswa siswi baru. Seperti biasa, pengenalan lingkungan sekolah, organisasi, pengenalan siswa siswi baru, dll. Tapi bukan ini yg ingin saya cermati. Bukan (atau belum) terjadi di sekolah saya, di mana pada masa orientasinya, siswa siswi baru ini dimarah marahi, dibuat bahan lelucon oleh kakak kelasnya, seperti bawa barang yg aneh aneh, hukuman yg tak perlu, yang pasti tidak ada hubungannya dengan makna kata "orientasi" itu sendiri yang berarti perkenalan. Kenapa harus ada hal seperti ini di masa orientasi beberapa sekolah di Indonesia? Apa tujuannya?

Beberapa pengakuan yang saya baca di internet, atau obrolan obrolan bersama teman teman saya, memunculkan satu jawaban utama, yang menurut saya ini absurd. Junior harus dididik secara keras dulu, supaya bisa hormat sama seniornya. Seriously? Apa yang saya lihat di orientasi semacam ini, bukanlah didikan, tetapi seperti ajang mempermalukan siswa siswi baru di depan para senior. Dan ini bukan kesan pertama yang baik dari junior kepada senior, di mana kesan pertama merupakan hal penting dari suatu pertemuan.

Tujuannya kata mereka rasa hormat, respect dari junior. Tetapi jika junior diperlakukan seperti ini, bukan rasa hormat yg didapat. Okelah mereka menghormati senior, tetapi atas dasar rasa takut, bukan hormat yg sebenarnya. Dan tentu pasti bukan hormat seperti itu yg diinginkan para senior. Padahal, rasa hormat itu bisa didapat dengan cara lain, seperti ajak mereka ngobrol, akrab dengan mereka, anggap saja mereka seperti adik kandung sendiri, maka dengan sendirinya, mereka akan menghormati kita, bukan atas dasar rasa takut. 

Mungkin mulai sekarang, mindset para senior di sekolah sekolah di Indonesia harus mulai diubah. Jika ingin dihormati oleh junior, mulai dengan menghargai dan menyayangi mereka, jalin hubungan baik, dengan begitu, mereka akan menghormati kita, para senior. Coba lihat di Singapura, dimana ospeknya adalah melakukan suatu kegiatan untuk menyenangkan hati orang orang di sekitar mereka, jadi lebih peduli terhadap lingkungan. Bukankah hubungan baik antar sesama manusia itu akan menguntungkan semua pihak?



Rabu, 30 April 2014

imagine...

Imagine, there are no guns, just flowers
Imagine, people throw smiles, not grenades
Imagine, the world is driven by peace, not money
Imagine, there are no wars, just laughs
Imagine, black and white people, live together peacefully
Imagine, no racism, no discrimination
Imagine, all the people love each others
Imagine, no hates, just loves.

"You may say, I'm a dreamer, but I'm not the only one" - John Lennon

Kamis, 13 Maret 2014

Jangan Lagi Remehkan Penjaga Gawang!

        Di sore itu, saat aku masih kecil dulu, aku dan teman teman ku memutuskan untuk bermain sepak bola di lahan kosong yang terletak tidak jauh dari rumah kami. Seperti biasa, hanya 2 pasang sendal jepit yang kami jadikan gawang, juga bola plastik. Setelah tim dibagi 5 lawan 5, saatnya pembagian tugas. Kebanyakan dari kami pasti memilih untuk menjadi penyerang, atau pemain tengah. Jarang yang mengajukan diri untuk menjadi bek, apalagi kiper. Hanya 1 orang lah yang (dengan terpaksa) bersedia menjadi penjaga gawang. Setelah bermain, kami pulang dengan keringat banyak, siap untuk nanti dimandikan ibu kami masing masing.

         Beberapa minggu yang lalu, aku diajak oleh teman temanku untuk bermain futsal di suatu daerah. Aku menyanggupi, memang saat itu kegiatanku tidak terlalu banyak. Kami memutuskan untuk main di sore hari, sama seperti aku kecil dulu, bedanya, sekarang aku main di lapangan futsal yang memakainya saja harus bayar, tidak di lapangan kosong seperti dulu. Hal yang sama terjadi saat pembagian posisi, kebanyakan dari kami enggan untuk menjadi penjaga gawang. Dengan terpaksa, seseorang bersedia menjadi kiper.

         "Lalu, kenapa banyak orang enggan menjadi kiper?"

          Dari wawancaraku bersama teman teman ku, banyak yang bilang kalau alasannya adalah seperti ini:
1. Kiper jarang cetak gol, nanti dibilang gak jago

2. Bosen jadi kiper, kalo gak diserang nganggur doang di belakang

3. Halah, nanti kalo kebobolan, pasti yang disalahin kiper duluan

Daaaan masih banyak alasan lain lagi.........

           Menurutku, memang menjadi kiper bukanlah hal yang mudah, tapi bukannya bermain di posisi manapun tidak ada yg sangat mudah? Menjadi seorang kiper juga dituntut memiliki tanggung jawab besar, karena kitalah yang mengatur bagaimana posisi pemain bertahan didepan kita, dan jika salah, kebobolan, kiper harus berani bertanggung jawab.

            Menjadi kiper, sebenarnya tidak melulu soal jatuh bangun menjaga gawang. Seperti yang disebut di atas, kita mengatur posisi pemain di depan kita untuk bertahan. Kiper modern pun juga berperan dalam membangun penyerangan tim. Ingat Peter Schmeichel yang disebut Playmaker Goalkeeper? Atau beberapa kali kita lihat Manuel Neuer naik ke setengah lapangan untuk membantu rekan setimnya di Bayern menjalankan tiki takanya Guardiola. Kiper juga biasanya adalah orang yang akan ditunjuk pelatih untuk menjadi kapten timnya. Dan ingat lagi satu hal, kiper akan jadi pahlawan timnya saat berhasil menggagalkan peluang emas tim lawan untuk mencetak gol ke gawang kita. Kita pasti masih ingat penyelamatan penalti Dudek saat adu penalti Liverpool vs AC Milan, yang akhirnya memberi gelar juara Champions League ke Liverpool secara dramatis. Atau jika mungkin Ravi Murdianto tidak menyelamatkan penalti lawan saat adu penalti Final AFF U-19, mungkin kita tidak akan melihat Ilham Udin berselebrasi sebegitu gembiranya saat penaltinya memastikan gelar juara AFF U-19 kepada Timnas Indonesia U-19. Menyenangkan bukan menjadi pahlawan tim di saat seperti itu?

             Jadi, masih mau meremehkan posisi penjaga gawang?

Full Time FMer, Part Time Student

Rafiandra Putra Andika

Selasa, 11 Maret 2014

Day 2 Of Holiday

Assalamualaikum Warahmatulkahi Wabarakatuh!

      Jadi, ini adalah hari kedua gua libur sekolah, dikarenakan kakak kelas 12 yang lagi pada Ujian Sekolah (Semangat kakak kakak angkatan 45!), dan gua mulai merasa bosan, tapi tetep gua gak pengen cepet cepet masuk sekolah...

      Libur sekarang, seperti biasa, gua nginep di rumah eyang gua sampai hari Minggu ntar, cari cari suasana baru, soalnya kalo di rumah terus gua takut ngeliat buku buku pelajaran dan pr pr yang menumpuk. Nih beberapa pr gua yang belum (baca:gamau) gua kerjain:

1. Pr kelompok b indonesia karya ilmiah

2. Pr kelompok agama Islam

3. Pr EP EK EM Matematika di kertas folio (ini nyebelin, musti dikumpulin pagi)

4. Gatau lagi deh, dan gua juga gamau nginget ngingetnya.........

       Kayaknya sih masih banyak, coba aja gua punya Pensil Komputernya Doraemon. Apa? Lo gatau Pensil Komputer? Itu lho pensil yang bisa nulis sendiri. Makanya, jangan banyak banyak nonton sinetron. Wkwkwk.

       Pas libur ini sendiri sih, kehidupan gua udah kayak dijadwal, dan kegiatan di rumah eyang gua nih emang itu itu aja.

       Bangun tidur

       Nonton tv

       Main FM sambil online di laptop

       Makan

       Ngeblog

       Main ke rumah temen

       Udah gitu gitu aja terus sampe tidur lagi. Bosen? Gak terlalu sih, daripada ngerjain pr ya mendingan gini yak, haha... Yaudahlah segini aja dulu post gua sekarang, ngeblog ini juga jadi salah satu kebiasaan baru pas liburan sekarang, semoga aja bisa kebiasaan terus terusan.....

Full Time FMer, Part Time Student

Rafiandra Putra Andika

Senin, 10 Maret 2014

"Semua orang berawal dari nol. Yang membedakan mereka adalah bagaimana cara mereka mencapai seratus." - Rafiandra Putra Andika, remaja 16 tahun ketagihan FM dan FIFA